Kebersamaan kita dengan orang lain, memenuhi jenak-jenak waktu kita. Kebersamaan dalam berbagai kesempatan. Bagi mereka yang berorganisasi adalah ebersamaan dalam menyusun program, mengangkat acara, bersama dalam perjuagan. Bagi mereka dalam sturktural instansi, kebersamaan dalam hubungan atasan-bawahan. Juga kadang dalam interaksi dalam structural pekerjaan tadi, kita temui saudara, tetangga, atauun keluarga dalam hubungan structural pekerjaan: adayang anaknya menjadi bawahan ayahnya, ada menantu yang menjadi atasan mertua, dan sebagainya. Ada yang dalam berinteraksi (muamalah) sebelumnya sudah kenal lama, ada juga yang baru kenal. Meski ada pula, mereka yang berada dalam satu tim pekerjaan ternyata tidak begitu banyak bersentuhan. Begitu juga mereka bahkan yang dalam satu tim atau badan organisasi; tak terlalu intens persentuhannya.


Dalam kebersamaan dan keseringan interaksi, ada teladan yang perlu kita pertimbangkan. Adanya kebaikan-kebaikan kita kepada oranglain, tak mesti kita tampakkan. Ketersembunyian terkadang tetap diperlukan. Ketersendirian dalam amal shalih tidak boleh diabaikan. Kemampuan kita untuk mengikhlaskan diri. Karena kebersamaan dan kedekatan yang terus menerus bisa saja menghamparkan jebakan lain yang bisa menodai kebersamaan itu. Seperti kata Imam Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa rkumpulnya orang-orang beriman tetap menyimpan marabahaya yang harus diwaspadai.

Pertama, tatkala dalam perkumpulan itu, satu sama lain saling menghiasi dan membenarkan. Kedua, ketika dalam perkumpulan itu, pembicaraan dan pergalan antar mereka meleboihi kebutuhan. Ketiga, pertemuan mereka menjadi keinginan syahwat dan kebiasaan yang justru menghalangi mereka dari tujuan yang diinginkan. (Al Fawa-id,60).

Seperti itualh, kedekatan dan kebersaaan berlebihan bisa saja menggiring kami dalam sikap saling membaik-baikkan dan tidak jujur dalam mengakui kekurangan.

Kesalahan adalah kesempurnaan.

Kita bukanlah jama’ah para malaikat yang tak pernah salah, juga bukan kumpulan syetan yang selalu salah. Setiap kita pernah melakukan kesalahan. Jalan hidup yang berliku kadang membuat kita sedikit berbelok. Maka tobat adalah kembalinya seseorang untuk memperbaiki diri dari kekhilafan (kekeliruan). Mereka yang tahu dirinya bersalah dan bernoda kemudian melakukan tobat dan perbaiki diri adalah lebih mulia dari mereka yang (pernah) salah tapi tidak tahu bahwa salah dan kemudian tetap menganggap dirinya tak pernah bernoda. Sungguh disayangkan ketika ada sesorang yang menganggap dirinya baik dan tidak pernah salah; kemudian merasa mulia dari yang lain. Sungguh kasihan kepada mereka yang pernah jatuh salah kemudian merasa dirinya hina dan kemudian takpernah bangkit untuk melakukan perbaikan.

Kita harus sadar bahwa kita banyak kekeliruan dan bahwa kita memerlukan bantuan orang lain untuk memperbaiki diri. Apalagi jika kita secara realitas terus menerus berinteraksi dan berbenturan dengan arus yang menghantam dan mengarahkan ke arah yang bisa saja menyeberangkan dari arah jalan kita. Maka adalah keliru jika ada anggapan bahwa setiap orang harus ideal di mata kita. Seorang pemimpin harus selalu enjadi contoh bagi bawahannya; padahal seorang pemimpin adalah manusia yang bisa saja salah. Seorang ustadz tidaklah dihakimi sebagai malaikat yang tak pernah berbuat khilaf; ustadz juga manusia. Salah besar jika seorang da’i atau aktivis kampus tidak boleh melakukan kekeliruan. Ketidaksempurnaan manusia justru adalah kesempurnaannya.

Menumbuhkan Kesadaran Tentang Kekhilafan.

Pertama, kita pasti dapat menemukan kesalahan atau aib orang lain jika kita mencari-carinya. Ibarat seekor lalat yang selalu mencari tempat dan sisi kotor dari manusia, meski yang bersangkutan sudah berusaha membersihkannya.

Kedua, menyadari bahwa kesalahan-kesalahan orang lain adalah karena mereka bergerak dan dan melakukan banyak aktivitas . karena itu sangat ungkin mereka melakukan kesalahan. Maka pandanglah kekelirua itu bukanlah suatu kesalahan, selama tidak disertai fanatic dan terus menerus melakukan kesalahan sesudah ditunjukkannya jalan perbaikan. Kesalahan adalah justru ketika mundurnya seseorang dari kegiatannya untuk ‘mencari aman’ dari kemungkinan terjadinya kekhilafan. Dan tentu saja, kekeliruan harus disikapi dengan sikap yang benar. Dalam artian, kesalahan oranglain harus kita luruskan dengan adab dan cara-cara yang benar. Dengan tujuan yang baik, metode yang baik, objektivitas dan kelapangan dada sesama kita (yang memperbaiki maupun yang diperbaiki).

[Disadur dengan pengubahan seperlunya dari Beginilah jalan Dakwah Mengajarkan Kami M. Lili Nur Aulia]


Comments (0)